ZOOM IN PERPUSTAKAAN SEKOLAH


Zoom In  Perpustakaan Sekolah.
Setiap hari selama sekolah tidak libur, selama lebih dari 12 tahun, aku selalu melalui ruang itu, yang orang lain sebut Perpustakaan, tapi aku lebih senang menyebutnya gudang buku bekas. Sering aku terheran-heran dengan para pengambil keputusan di  tempatku bekerja, tempat mengabdi (mengabdi kepada keluarga, Oooh!), mereka seolah-olah tidak paham dengan fungsi nomor satu dari sebuah perpustakaan sekolah,  yaitu membangkitkan minat baca anak-anak.
Tapi kenyataannya di perpustakaan kami hanya diisi oleh buku-buku pelajaran wajib bertumpuk-tumpuk, yang tentu saja akan banyak berguna apabila para siswanya telah mencintai ilmu, dan banyak ingin tau. Tetapi kedahagaan akan keingintahuan, dan kehausan akan ilmu pengetahuan baru bisa dicukupi apabila sebelumnya sudah tertanam  minat baca yang tinggi. Jadi berharap kepada orang untuk membaca buku ilmu pengetahuan, sedangkan orang tersebut tidak memiliki minat baca yang tinggi, sama halnya dengan menyuruh seseorang untuk  mencari emas di dasar lautan, padahal orang tersebut buta lagi sama sekali dia  tidak dapat berenang.
Selama ini aku melihat anak-anak yang masuk ke perpustakaan adalah para siswa yang mendapat tugas untuk membaca atau merangkum sebuah buku pelajaran. Kadang-kala tugas tersebut adalah sebuah sangsi yang diberikan guru karena telah lalai mengerjakan pekerjaan rumahnya. Kulihat orang-orang tercintaku itu  hanya menatapi halaman-halaman buku tebal itu dengan pandangan  kosong. Dan andaikan pun mereka baca, semata-mata hanya menggunakan indera penglihatannya saja, tanpa menggunakan mata hatinya. Dan andaikan pun mereka merangkum, itu hanya dilakukan oleh tangan fisiknya, sementara tangan-tangann pikiran mereka melayang-layang kian kemari. Mereka menganggap membaca buku di perpustakaan adalah sebuah kutukan yang datang dari neraka lapisan teratas. Sama sekali membosankan dan membuat langit ketujuh hanya menganggap tugas untuk membaca di perpustakaan adalah sebagai suatu hukuman. Tidak lebih tidak kurang, membaca adalah hanya sebagai konsekuensi yang dipaksakan akibat lalai mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka tidak pernah menganggap membaca adalah sebuah petualangan yang begitu mengasyikkan. Mendapat tugas membaca buku pelajaran, itu satu hal yang membuat mereka tersiksa di perpustakaan. Hal lain adalah tidak ada pilihan lain di perpustakaan selain buku-buku pelajaran itu. Berlebihan mungkin yang kukatakan tadi. Sebenarnya ada juga buku-buku yang bukan buku pelajaran, tetapi itu hanyalah beberapa buku saja, itupun hanya buku-buku cerita sastra kelas berat semisal Layar terkembang , Salah Asuhan, dan atau yang sejenisnya. Selain itu memang ada beberapa buku cerita, novel, atau yang lainnya dalam jumlah yang amat tidak sebanding.
Oh anak-anakku, maafkan aku telah salah mengasuhmu, sehingga menyusahkanmu  untuk mengembangkan layer-layar ilmu pengetahuan. Padahal di sekolah kita, kepala sekolah dan wakilnya adalah guru bahasa Indonesia, sedangkan aku, yang kini menjadi kurikulumnya adalah penulis cerpen ketika waktu muda dan pengemar buku yang kronis. Sebuah ironi.
Iklan

3 responses to “ZOOM IN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

  1. bapak,emang guru terhebat yg tlah mengajar saya…cerpen bapak TOP BGT…trims yah pak atas pelajaran yg tlah bpak berikan kpd saya N tman2…cerpen bapak patut diacungi jempol dch….

  2. “Anak-anak, kalian dapat sering-sering berkunjung ke Perpustakaan. Disini kalian dapat membaca, memanfaatkan buku, berdiskusi, ataupun rekreasi memanfaatkan beragam fasilitas disini,” tutur Sri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s