Belajar Menulis Lagi


Bertahun-tahun aku merindukanmu

Entah kapan kumiliki kau seutuhnya

kubegitu terobsesi olehmu

Okh, Honda Tiger impianku …

Itu motor impianku, mungkin agak lebay saat baru  kuceritakan sekarang, mengingat usiaku yang sudah tidak muda lagi. Tapi aku memang begitu terobsesi oleh  ‘Tiger’ itu, yang sampai sekarang masih saja jadi sebatas obsesi yang belum tercapai.  Tapi apa pedulinya, bila sesuatu begitu mendesak-desak di otakku untuk kukeluarkan. Semoga setelah kutuliskan dalam blog ini perasaanku sedikit terhibur.

Hari-hari  begitu banyak kegelisahan di kepalaku, tetapi kegelisahan-kegelisahan itu nyaris tidak ada yang bisa digolongkan  menyedihkan. Walaupun ada itu cuman rutinas pekerjaan, yaitu masalah Ujian Nasional., yang memang dari tahun ketahun selalu saja menyebalkan. Membuatku terkadang merasa telah berbuat kesalahan fatal. Akh, aku kuatir kalau ini terus dan terus berulang lagi, lama-lama aku bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah-lumrah saja. Akh …

KEMBALI KE MASalah Honda Tiger  tadi

Seingatku sejak melihat  iklannya pertamakali, aku sudah tergiur olehnya, atau mungkin karena  iklan itu yang membuatku jadi tergiur. Pertama kali diluncurkan motor  itu pada  tahun 1993, bulannya ngga penting. Sedangkan saat itu aku baru saja selesai kuliah (Januari 1992, biar ngga penting ini kutulis. Lagian ngga apa- apa barangkali, toh secara isi tulisan ini memang sudah terlanjur ngga penting).

Waktu itu aku masih jadi guru honorer  Antar Kota Antar Propinsi, kayak bus luar kota. Karena aku mengajar di beberapa sekolah di Tangerang dan juga  Jakarta. Penghasilan pas-pasan, cuman cukup buat ongkos dan beli beberapa hal yang mendesak aja. Seperti obat jerawat contohnya.

Pada saat itu aku ngga ngiler melihat keadaan orang lain. Aku ngga ngiler melihat orang lain memiliki mobil, apalagi hanya cuman motor yang bukan ‘Tiger’, biarpun lebih mahal. Aku juga ngga ngiler melihat orang lain sudah kebeli  rumah. Intinya aku ngga pernah ngiler, kecuali ketika aku sedang tidur aja (ya, iya lah…). Banyak bahkan, bisa-bisa seluas pulau Jawa ilerku itu di bantal.

Kalaupun ada yang membuatku ngiri (bukan ngiler) pada saat itu, pastilah karena aku miring kekiri. Maksudku, aku pingin diangkat jadi PNS. Lantas kenapa kusebut miring kekiri, karena jadi PNS siap untuk hidup mirip-mirip kehidupan masyarakat berfaham kiri (mirip kubilang), yaitu sama rata. Jadi PNS  itu penghasilannya  sama rata untuk sesama golomgan dengan masa kerja  yang sama. Prek, dengan prestasi dan kerajinan. Makanya ada orang yang mengartikan PNS itu ‘Pinter atau Ndablek Sama saja’ (Kuharap tidak banyak orang yang berpendapat koplak begini).

Bagiku jadi PNS berarti menaikkan martabat keluarga di depan orang lain, dan tentunya dan ini yang penting, jikaku jadi PNS berarti martabatku akan naik di depan dealer motor. Sehingga dealer akan mudah membolehkan aku menggondol motor ‘Tiger’ dagangannya melalui sistim  BTN (Bayar sih Tapi Nyicil).

Tapi kenyataannya berkata lain, bahkan sudah jadi PNS bertahun-tahun pun, obsesiku untuk punya ‘Tiger’ belum juga tercapai. Padahal aku selalu saja ingat motor itu.

Sebenarnya berlebihan kubilang selalu mengingat motor itu. Sebenarnya pernah ada masa dimana aku bisa melupakan khayalanku tentang motor itu. Yaitu, ketika aku mulai bertemu dengan seorang perempuan. Guru baru di salah satu sekolah tempatku mengajar, itu sekitar tahun 1995. Berhubung aku ngga mau disebut laki-laki yang ngga laku, ditambah memang aku menginginkannya untuk kuajak menikmati hari-hari bersamaku, maka sebelum dia tersadar sesadar-sadarnya, kupepet kupepet terus habis-habisan. Sampai-sampai dia menderita sesak napas akut, hingga akhirnya dokter  menyatakan dia telah kehabisan napas logisnya, sehingga dalam waktu singkat, hanya memerlukan waktu satu semester saja, kuberhasil mempersuntingnya.

Berhubung masih baru-baru aja menikah, maka dengan mudahnya ‘Tiger’ pujaanku itu dapat kulupakan begitu saja. Demikian juga untuk beberapa tahun kemudian. Ya, mungkin sekitar empat tahunan aku bisa melupakan motor idolaku itu.

Okh, Tiger, maafkan aku, aku sempat melupakanmu. Tapi kuyakin kau tidak meranjuk dengan cemberut , apalagi sampai marah-marah. Malahan  kulihat, kau makin cantik aja dengan dandananmu yang selalu diperbaharui oleh perusahaan sialan itu, yang gara-gara mereka aku jadi punya obsesi konyol begini.

Lalu mengapa  sampai sekarang belum juga tercapai cita-citaku yang sederhana begitu. Apakah karena aku masuk golongan  kaum dhuafa? Alhamdulillah, menurut standar BPS aku ini jutru digolongkan sebagai  manusia Indonesia yang lumayan secara ekonomi. Nggak kekurangan, tapi cukup berlebihan dalam hal hutang. Syukurnya sampai saat ini  aku masih bisa menyicilnya, sehingga ngga pernah berhubungan secara baik maupun buruk dengan makhluk  yang dinamakan debt colector. Baik penagih hutang yang mukanya manis maupun yang mukanya kecut bin sangar.

Lalu kenapa dong masih saja belum punya Honda Tiger?

Ceritanya agak panjang, kalau sempat nanti kuceritakan.

TURBO, Turunan Bogor atau Turunan Boke

Yang kumaksud ‘turunan ‘ tentu bukannya diferensial yang musuhnya integral itu. Itu sih Matematika banget jadinya. Ini asli turunan dalam arti masyarakat umum orang melayu. Aku dibesarkan oleh ibuku sendirian,  tanpa suami. Maka ibuku  itu  single parent tentunya.  Karenanya ketika kecil  aku ini mungkin anak yatim, kubilang mungkin karena memang mungkin. Sebabnya aku ngga tau pasti tentang keberadaan ayah kandungku. Hingga kini. Katanya sih, dia sudah pergi meninggalkan kami sejak aku berusia sekitar empat puluh hari.  Dia pergi entah kemana. Mungkin ke kampungnya di Padang Bolak sana. Atau mungkin justru ke Padang Pasir, lalu jadi juragan unta disana. Karena saking sibuknya dengan unta-untanya itu, dia jadi lupa kalau dia itu sudah punya anak seganteng dan baik hati seperti aku ini.

To be continue

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s